Paroki St Fransiskus Asisi Mamsena
Paroki ini lahir dari Rahim Paroki Induk Maubesi yang didirikan pada tahun 1918 oleh Misionaris SVD. Sebelum menjadi paroki berstatus sebagai Stasi Mamsena. Secara teritorial, keberadaan Mamsena sebagai salah satu stasi di bawah asuha Paroki Maubesi menunjukan bahwa di satu sisi Paroki Maubesi dapat dikategorikan sebagai paroki yang sangat luas, dan karena itu membutuhkan pelayanan pastoral yang ekstra. Disisi lain, dengan keadaan wilayah paroki yang demikian luas serta minimnya jumlah iman/pelayanan pastoral, sering kali membuat proses pelayanan pastoral menjadi kurang efektofdan efisien. Atas dasar inilah, maka dalam perjalanan selanjutnya muncul wacana unutk meningkatkanstatus Mamsena dari stasi menjadi bakal paroki. Dalam statusnya sebagai bakal paroki, dilakukan berbagai macam upaya pembenahan, baik di bidamng infrastruktur maupun dibidang kerohanian sebagai persiapan menjadi paroki.
Upaya ini mendapat dukungan baik dari Pastor Paroki Maubesi dan dewan bersama umat. Proses pembenahan ini dilakukan secara bertahap hingga akhirmya pada tahun 1975, Uskup Mgr. Theodorus Van Den Tillaart, SVD mengeluarkan SK pendirian Paroki Mamsena dan menyatakan secara resmi Mamsena sebagai Paroki dengan nama Paroki St. Raymundus Nonatus. Pastor Paroki yang pertama bertugas mengembalai umat di paroki baru ini adalah P. paul Gootee, SVD. Ia sekaligus menjadi pastor perintis berdirinya Paroki Mamsena. Seiring perjalanan waktu, Paroki Mamsena mengalami pertambahan jumlah penduduk (umat katolik) yang semakin pesat. Bersamaan dengan itu terjadi pula sebuah perkembangan dalam bidang kehidupan rohani yakni jumlah umat yang mengikuti misa/ibadat semakin bertambah. Kondisi ini kemudia berdampak pada ketidakseimbangan antara jumlah umat yang hadir dengan kapasitas rumah ibadat. sehingga Pastor Paroki (P. Kornelis Dosi, SVD) bersama Dewan Pastoral berniat dan berinisiatof untuk membangungedung gereja yang baru, permanen, luas dan memadai. Upaya pembangunan gedung gereja yang baru ini dimulai pada tahun 1994 dan mencapai puncak perampungannya pada tahun 1996. Gedung ini ditabiskan pada tanggal 18 Oktober 1996 oleh Bapak Uskup Atambua, Mgr. Anton Pain Ratu, SVD. Pada sat itu juga terjadi pergantian nama pelindung paroki dari Santo Raymundus Nonatus menjadi Paroki St,. Fransiskus Asisi. Nama Santo Fransiskus ini kemudian juga menjadi nama pelindung Gereja Mamsena.